Berkolaborasi untuk Berkelanjutan



Pada tahun 2016 ini dunia menghadapi berbagai risiko yang jika tidak tertangani dengan baik dapat menjadi ancaman secara global. Mulai dari risiko kegagalan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim, ketidakmampuan menanggulangi krisis air, meningkatnya kerusakan sumber daya alam, berubahnya harga energi secara tiba-tiba, bertambahnya perlombaan sejata, hingga risiko meluasnya konflik regional.

Di antara risiko-risiko yang ada, risiko kegagalan menanggulangi krisis air dikhawatirkan akan menjadi acaman serius jika tidak segera ditangani. “Krisis air berdampak besar pada masyarakat,” tegas YW. Junardy, President of Indonesia Global Compact Network (IGCN). Saat ini saja diperkirakan ada sekitar 750 juta orang di dunia yang kurang memiliki akses ke air bersih. Hal ini mengakibatkan mewabahnya bemacam-macam penyakit di berbagai negara karena masyarakat menggunakan air kotor dalam aktivitas sehari-hari, termasuk untuk kebutuhan makan dan minum.

Risiko-risiko tersebut juga berdampak pada potensi  bertambahnya gelombang pengungsian dari negara konflik ke negara relatif aman, meningkatnya laju penganguran, munculnya krisis keuangan hingga ancaman kerawanan sosial. Demikian dipaparkan oleh Junardy, saat Seminar Reguler yang digelar Program MM-Sustainability Universitas Trisakti pada 16 Maret 2016.

Menurut Junardy untuk menghadapi risiko dan tantangan global ini maka agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau  Sustainable Development Goals (SDGs) menjadi penting. SDGs ini berisi 17 tujuan, yaitu menghapus kemiskinan, mengakhiri kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan, kualitas pendidikan yang baik, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi, akses ke energi yang terjangkau, pertumbuhan ekonomi, inovasi dan infrastruktur, mengurangi ketimpangan, pembangunan berkelanjutan, konsumsi dan produksi berkelanjutan, mencegah dampak perubahan iklim, menjaga sumber daya laut, menjaga ekosistem darat, perdamaian dan keadilan, dan revitalisasi kemitraan global. Seluruh tujuan itu diupayakan dapat tercapai dalam periode 2015 hingga 2030.


Pada intinya pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan untuk memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhannya. “Untuk mencapai itu semua perlu adanya partnership antara pemerintah, bisnis, lembaga donor dan masyarakat sipil,” papar Junardy, yang sejak Mei 2015 terpilih menjadi Board of the United Nations Global Compact (UNGC) ini.

UNGC sendiri berpandangan bahwa kalangan bisnis dapat menjadi bagian dalam solusi menghadapi globalisasi. Dalam hal ini kalangan bisnis dapat mendukung dan berkomitmen pada 10 prinsip UNGC. Prinsip-prinsip dalam UNGC ini mencakup hal-hal yang berkaitan dengan hak asasi manusia, ketenagakerjaan, lingkungan dan anti korupsi.

Bagi kalangan bisnis, terdapat sejumlah manfaat  yang dapat diraih dengan melakukan kegiatan yang sejalan dengan UNGC/IGCN dan SDGs. Diantaranya adalah reputasi perusahaan yang baik, menjadi pilihan investasi, meningkatnya produktivitas operasional, mendapat “lisensi sosial”, loyalitas konsumen bertambah, product compliance, mendorong pertumbuhan, dan menjadi perusahaan pilihan. Namun demikian, menurut Junardy, tantangan global saat ini harus dihadapi bersama. “Mari kita berkolaborasi, melakukan colaborative action, karena kita tidak bisa berjalan sendirian,” ajak Junardy.

0 views

contact us

MM-Sustainability Trisakti University

Menara Batavia 2nd Floor

Jl. K. H. Mas Mansyur Kav. 126

Central Jakarta, 10220

Indonesia

P. 021-57 930 117 / 57 930 241

F. 021-57 930 117

E. info@mmsustainability.ac.id

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube

© 2023 by Lee Phan. Proudly created with Wix.com