Lokakarya Peran CSR Bagi Perairan Indonesia



Direktur CECT Universitas Trisakti Dr. Maria R Nindita Radyati menjadi moderator pada lokakarya nasional yang digelar Kementerian Kelautan dan Perikanan di Jakarta pada 25 Juni 2013. Lokakarya nasional bertempat di Hotel Borobudur ini mengambil tema Melestarikan Laut Kita: Peran Pemangku Kpentingan mendorong Pengelolaan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil untuk Masa Depan Kelautan dan Perikanan Indonesia.

Pada lokakarya yang dihadiri sekitar 100 peserta ini Maria Nindita mengatur jalannya sesi  persentasi panel dan diskusi dengan topik Komitmen Swasta dalam Mendukung Pengelolaan Konservasi Perairan, Pesisir dan Pulau-pulau Kecil: Pengalaman dan Tantangan. Sesi ini menampilkan 4 pembicara dari BUMN dan perusahaan swasta yang telah menerapkan CSR di bidang konservasi perairan, pesisir dan pulau-pulau kecil. Mereka adalah Direktur Utama PT Biofarma Iskandar, EVP HC & Copr Affairs PT Garuda Indonesia Heriyanto, Senior Manager Environmental Affairs PT Newmont NT Potro Resi Soeprapto dan Wawan Koswara dari Statoil Indonesia. 

Iskandar misalnya memaparkan aktivitas CSR Biofarma dalam memperbaiki infrastruktur konservasi penyu hijau di Sukabumi dan mangrove di Indramayu, Jawa Barat. “CSR Biofarma pada prinsipnya mencakup biodiversiti, geodiversiti dan kultural diversiti,” papar Iskandar. Sedangkan Wawan menjelaskan perihal pentingnya strategi implementasi CSR bagi Statoil sebelum melakukan eksplorasi minyak dan gas di lautan. Misalnya melakukan pemetaan sosial dan lingkungan agar tahap seismik tidak mengganggu jalur mamalia laut. “Dengan demikian perusahaan akan mendapat dukungan masyarakat atau social license,” jelas Wawan.  


Pada sesi ini Potro Resi mempresentasikan strategi yang dilakukan PT Newmont NT untuk melestarikan penyu laut dan mengembangkan terumbu karang buatan di Sumbawa Barat. “Salah satu tantangan kami adalah bagaiman merubah kebiasan masyarakat agar tidak mengkonsumsi daging dan telus penyu,” ujar Potro. Sementara itu Heriyanto menuturkan peran serta PT Garuda Indonesia dalam konservasi penyu laut di pesisir Pulau Bangka (Sumatera) dan Gili Trawangan (Lombok), pembersihan area pantai Pulau Bali dan penyelamatan ikan hiu. “Garuda Indonesia melakukan hal itu melalui kemitraan dengan pihak lain,” tambah Heriyanto.

Menurut Maria Nindita, aktivitas CSR sebaiknya dilakukan secara holistik dan terintegrasi dalam strategi perusahaan. Hal ini dapat diawali dengan melakukan pemetaan sosial agar dapat disusun aktivitas CSR yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sejalan dengan visi-misi perusahaan. “Perlu dipahami bahwa CSR merupakan investasi bagi perusahaan,” tegas pakar CSR yang akrab disapa Nita ini.

Ia menjelaskan, CSR itu meliputi internal dan eksternal perusahaan dan akan lebih baik jika dilakukan melalui kerja sama dengan pihak lain. Bermitra dengan pihak lain ini perlu dilakukan untuk menyiasati ketersediaan SDM pada bidang tertentu yang tidak dimiliki perusahaan. Misalnya, untuk aktivitas di bidang lingkungan perusahaan dapat bermitra dengan lembaga swadaya masyarakat yang telah berpengalaman mengelola lingkungan.

0 views

contact us

MM-Sustainability Trisakti University

Menara Batavia 2nd Floor

Jl. K. H. Mas Mansyur Kav. 126

Central Jakarta, 10220

Indonesia

P. 021-57 930 117 / 57 930 241

F. 021-57 930 117

E. info@mmsustainability.ac.id

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
  • YouTube

© 2023 by Lee Phan. Proudly created with Wix.com