Membangun Jakarta Harus Holistik dan Terpadu



Salah satu syarat menjadi pemimpin yang baik adalah membuka hati dan diri terhadap rakyat. Itulah salah satu poin penting yang disampaikan Tantowi Yahya, anggota Komisi I DPR RI pada diskusi yang digelar CECT dan Program MM-Sustainability Universitas Trisakti di Gedung Menara Batavia, Jakarta, 16 Februari 2011.

Secara khusus Tantowi menyoroti peran gubernur sebagai pemimpin dalam membangun Jakarta. Selama ini pembangunan di Jakarta belum mampu menyelesaikan masalah mendasar seperti kemacetan dan banjir. Menurut Tantowi, kemacetan di Jakarta antara lain dipicu oleh pertambahan jumlah kendaraan yang terus melaju mencapai 11% per tahun. Di sisi lain, penambahan panjang ruas jalan hanya 1% per tahun. Kondisi ini diperparah oleh sistem transportasi publik yang tidak tertata.


Banjir juga semakin sering terjadi. Hujan sekejap pun bisa membuat Jakarta tergenang. Jakarta memang diapit dua sungai besar, yaitu Citarum dan Cisadane. Ditambah kontur Jakarta yang mirip “kuali”, Jakarta memang mudah tergenang air. Bahkan, hujan yang mengguyur kawasan Bogor bisa membuat Jakarta kebanjiran karena posisi tanah Jakarta yang lebih rendah dari Bogor.

Persoalan lain adalah ruang publik di Jakarta yang semakin menciut. Kini hanya 6% saja dari luas wilayah Jakarta yang bisa disebut sebagai ruang publik. Tantowi mengatakan, sulit untuk menambah ruang publik di Jakarta karena luas wilayah yang sangat terbatas. Karena itu, dalam pandangan Tantowi, penyelesaian masalah mendasar di Jakarta harus diselesaikan secara holistik dan terpadu (integrated). Tidak mungkin menyelesaikan persoalan Jakarta secara parsial atau sepotong-sepotong.

1 view0 comments